Lulusan D3 Farmasi NTB Membludak, PAFI Diminta Kembangkan Farmasi Herbal

Lulusan D3 Farmasi NTB Membludak, PAFI Diminta Kembangkan Farmasi Herbal

PafiIndonesia.org – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) meminta kepada seluruh anggota Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) yang belum bekerja, untuk mengembangkan keahlian farmasinya di sektor obat herbal.

Hal itu diungkapkan Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Sitti Rohmi Djalilah, saat membuka seminar PAFI di Mataram NTB beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, NTB kaya akan tumbuh tumbuhan yang bisa dijadikan obat obatan herbal, antara lain daun kelor dan tumbuhan lainnya.

“NTB saat ini tengah gencar industrialiasi serta mengekspor daun kelor ke negara luar. Ke depannya diharapkan kepada seluruh tenaga ahli farmasi, agar bisa mengembangkan obat obatan herbal tersebut,” kata Rohmi, Sabtu (25/6/2022).

Terpisah, Ketua PAFI NTB Mujiasih mengungkapkan, arahan untuk mengembangkan obat trandisional khusunya yang ada di NTB tersebut, dinilai merupakan angin segar terutama bagi para anggota PAFI di NTB.

Tak hanya menghasilkan finansial dari penjualan obat obatan, namun kompetensi para Tenaga Teknik Kefarmasian (TTK) juga bisa tetap dipraktikkan, meskipun tidak bekerja di sarana kefarmasian.

“Pengembangan obat obatan herbal ini sangat bagus bagi Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK). Jadi, mereka tidak perlu menunggu lowongan kerja di sarana kefarmasian lainnya,” katanya.

Ia memaparkan, di Provinsi NTB, ada delapan Institusi Pendidikan baik D3 Farmasi maupun S1 Farmasi. Yang mana, yang setiap tahunnya meluluskan sekitar 100 orang lulusan TTK.

Saat ini, lanjut Mujiasih, banyak lulusan TTK yang belum mengetahui di mana mereka akan praktik. Hal tersebut terjadi karena penambahan jumlah lulusan tidak berbanding lurus dengan penambahan jumlah sarana kefarmasian, seperti apotek, rumah sakit, toko obat dan puskesmas di NTB.